All posts by Rummaan

Garis Tipis antara Moderasi dan Ekstremisme

Oleh Maan Khalife pada 22 Juni 2014 di www.onislam.net

Islam adalah agama yang moderat, agama jalan tengah, dan ini adalah fakta!

Namun demikian, orang Islam dapat ditemukan dalam beraneka rasa.

Allah berfirman dalam kitab-Nya yang berarti:

{Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan (ummatan wasata) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…} (Al-Baqarah 2:143)

Abul Aala Al-Maududi, seorang ulama terkenal yang menginterpretasikan Al-Quran, berkaitan dengan ayat di atas berkata:

“Kata “ummatan wasata” bersifat begitu menyeluruh dalam makna sehingga tidak ada kata dalam Bahasa Inggris yang dapat melukiskan secara tepat makna kata tersebut secara utuh. Kata tersebut menggambarkan komunitas yang adil dan mulia yang tidak melampaui batas, tapi mengikuti jalan tengan dan menawarkan keadilan secara merata pada bangsa-bangsa di dunia sebagai hakim yang tidak memihak, dan seluruh hubungan dengan bangsa lain didasarinya dengan kebenaran dan keadilan.”

Orang Islam pantas menerima gelar ini apabila mereka mengikuti perintah-perintah Allah sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW yang senantiasa moderat dalam segala urusannya.

Allah memerintahkan kita untuk berlaku moderat, dan cara untuk melakukannya dijelaskan kepada kita oleh Nabi SAW:

Abu Hurairah ra meriwayatakan bahwa Nabi SAW bersabda:

“Agama Islam adalah kemudahan, dan barangsiapa membuat agama ini kaku, maka hal itu akan mengalahkannya. Maka, ikutilah jalan tengah; jika engkau tak dapat melakukannya, lakukan sesuatu yang mendekati dan berikanlah kabar gembira dan mohonlah pertolongan (Allah SWT) di pagi dan senja hari dan pada sebagian malam” (Al Bukhari).

Diriwayatkan oleh Anas ibn Malik bahwa Nabi SAW bersabda:
“Mudahkanlah urusan untuk orang-orang, dan janganlah dipersulit bagi mereka, dan tenangkanlah mereka (dengan kabar gembira) dan janganlah menampik (mereka)” (Sahih Al-Bukhari)

Abdullah ibn Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullaah SAW bersabda:

“Tidak seharusnyakah kuberitahu engkau siapa yang Api haram baginya dan ia haram bagi Api? Yaitu setiap orang yang dekat (dengan rakyat), ramah, dan mudah (berurusan dengannya).” (At-Thirmidhi – Hasan)

Aisyah ra meriwayatkan:

“Rasulullah SAW tidak pernah membuat pilihan kecuali mengadopsi pilihan yang lebih mudah dibandingkan pilihan yang sulit, tetapi pilihan Beliau kepada yang mudah hanya apabila pilihan tersebut tidak melibatkan dosa, akan tetapi apabila pilihan tersebut melibatkan dosa, maka Beliau adalah yang terjauh dari hal itu di antara orang-orang.” (Sahih Muslim).

Ekstrimisme adalah melakukan salah satu dari dua sikap ekstrim: salah satu sisi mengharamkan yang halal, dan di sisi lain menghalalkan yang haram. Saya perlu mencatat di sini bahwa Islam bukanlah perkara hitam atau putih. Sesungguhnya ada perihal-perihal yang sangat jelas yang tidak perlu dipertanyakan, sementara ada perihal-perihal lain yang ambigu.

Hal-hal yang tidak pasti ini, menurut saya, menyebabkan perpecahan di antara sebagian kaum muslimin atau menyebabkan kebingungan bagi sebagian yang lain.

Anda mungkin berfikir: “Saya tahu kamu mengarah ke mana.” Namun demikian, kali ini saya hanya ingin membahas topik ini dari pengalaman saya sebagai seseorang yang telah hidup di berbagai bagian di dunia.

Juga setiap hari saya menerima pertanyaan dari pembaca; sebagian besar adalah miskonsepsi dalam interpretasi konsep Islami, Quran, dan Hadis. Apabila kita mengikuti ajaran Islam yang benar, yang berdasarkan Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, kita tak akan pernah tersesat.

Faktor ini membuat saya membuat beberapa kesimpulan mengenai apa yang menciptakan kebingungan di antara kaum Muslimin, sebagai berikut:

Mendengarkan Ekstrimis Non-Muslim

Begitu banyak orang Islam yang membuang waktu mereka dengan membaca website anti-Islam. Hal ini bukan saja membingungkan mereka, tetapi juga membuat mereka marah dan frustasi; dan dengan demikian melemahkan iman mereka.

Saran saya adalah untuk menjauhi website-website seperti itu karena mereka mengutip Quran dan Hadis di luar konteks dan mengambil kesimpulan mereka sendiri yang penuh dengan bias, kesimpulan yang salah.

Kita harus mengerti bahwa Islam tidak mungkin diajarkan oleh orang non-Muslim; sama saja seperti kita tidak akan pergi ke orang Buddha untuk belajar agama Kristen.

Juga, media memainkan peran yang besar dalam membentuk opini publik. Hal ini seringkali menyebabkan efek negatif baik bagi muslim dan non-muslim. Orang non-muslim dapat memiliki kesan yang buruk tentang Islam. Sementara orang muslim dapat menjadi lebih marah dan depresi, bahkan beberapa dapat mencapai titik merasa malu menjadi orang muslim!

Mendengarkan Ekstrimis Muslim

Anda mungkin bertanya: “Bagaimana cara mengidentifikasi seorang ekstrimis muslim?”

Pada satu sisi, ada tipe muslim yang secara jelas meremehkan banyak aspek-aspek dalam Islam, seperti misanya dengan mengatakan: “Mengapa saya harus memakai hijab?”, “Mengapa saya harus sholat lima waktu?”, atau “Mengapa Allah akan menghukum saya apabila Dia menciptakan saya seperti itu?”.

Kategori ini umumnya dilihat sebagai Muslim yang tidak mempraktekkan Islam, tapi sebenarnya ini adalah salah satu sisi ekstrim.

Di sisi lain, saya telah mengamati bahwa jika seseorang mengatakan kepadamu untuk membenci agama lain atau sekte Islam lain, sangat cepat menghakimi orang lain, dan bersegera mengharamkan sesuatu tanpa kualifikasi Islami, tidak dapat berinteraksi dengan non-Muslim dan menolak berurusan dengan mereka, dan seringkali duduk di masjid dengan berdiam diri sepanjang hari berpura-pura mencari ilmu, maka sesungguhnya dia telah menyimpang dari ajaran Islam yang benar.

Hal ini mengingatkan saya pada kisah nyata yang saya alami sendiri. Seorang muallaf sehari mendatangi saya setelah menyelesaikan sholat jamaah dan menanyakan kepada saya mengapa orang Islam harus membenci orang yang seperti ini dan seperti ini? Ketika saya bertanya siapa yang memberinya informasi yang demikian, saya menemukan bahwa yang memberi informasi demikian adalah seseorang yang memiliki semua ciri-ciri di atas.

Islam adalah agama yang paling toleran. Bahkan, Anda tidak akan menemukan dalam Al-Qur’an istilah “Allah membenci..”, kita hanya akan menemukan “Allah tidak menyukai atau Allah tidak mencintai”, dan ya, di situ ada perbedaan yang besar. “Benci” berarti memiliki rasa tidak suka yang intens dan penuh nafsu pada seseorang. Allah memiliki rahmat dan menerima tobat. Jika Dia membenci kaum kafir, maka Dia tidak akan menerima mereka apabila mereka kembali kepada-Nya. Bagaimana orang akan masuk Islam apabila kita membenci mereka?

Adalah fakta bahwa orang Islam berbeda-beda dengan sedikit pandangan berbeda tentang bagaimana mempraktekkan Islam; mereka dipengaruhi oleh budaya mereka masing-masing. Sebagai muslim yang moderat, saya harus mengingat hal tersebut dan menghormati cara-cara mereka.

Jika kita harus mengoreksi, kita perlu menemukan cara yang bijaksana untuk mendekati setiap orang pada tingkat intelektualitas mereka. Akan lebih baik untuk meminta ulama moderat untuk membimbing mereka dan menghindari perdebatan yang hanya akan memperlebar jurang pemisah daripada membawa kita semakin dekat satu sama lain.

Seringkali seorang ekstrimis akan menghakimi muslim yang demikian dan kadang-kadang menyebut mereka buruk dan bahkan kafir.

Saya, dalam banyak kesempatan, akan segera berpaling jika saya mendengar seorang muslim berkata bahwa hal ini dan itu “haram”. Pertanyaan saya adalah sejak kapan engkau menjadi Mufti (hakim tingkat tinggi pada pengadilan Islam), yang seringkali memiliki pengetahuan Islam yang komprehensif agar dapat mengatur berbagai hal untuk orang-orang dan situasi-situasi yang berbeda.

Saya heran mendengarkan seseorang di barat berkata: “Saya tidak berurusan dengan orang-orang kafir itu” dan mulai mengutip ayat-ayat Quran di luar konteks untuk membuktikan pendapatnya. Ia terdengar sangat meyakinkan, tapi bagaimana dia menyampaikan pesan-pesan Islam pada orang lain dan bagaimana dia berurusan dengan non-muslim dan rekan kerjanya?

Ia mungkin menuju titik ekstrim dengan tidak bekerja dengan mengklaim bahwa ia terlalu shaleh sehingga ia tidak bekerja untuk orang kafir, tapi dia menerima bantuan pemerintah (di Negara barat – red).

Jika Anda menemukan seseorang menganggur karena kemalasan, dan Anda seringkali menemukaannya duduk di masjid berdiam diri, maka ketahuilah bahwa pasti ada yang salah. Saya bekerja di negara barat dan sangat sulit bagi saya untuk menganggur, bahkan bila hanya dua pekan berturut-turut. Saya heran bagaimana orang-orang ini bertahan. Mungkin dari bantuan pemerintah, tapi seringkali dari sumber lain juga; saya akan biarkan Anda mengambil kesimpulan sendiri.

Kita juga harus berhati-hati dalam memilih ulama moderat yang pantas untuk didengarkan. Cobalah untuk menghadiri khutbah Jumat yang berbeda-beda di masjid yang berbeda-beda untuk memperluas wawasan Anda agar Anda dapat memilih dengan ulama mana Anda merasa paling nyaman; sikap moderat dapat dikenali dengan mudah.

Mengambil Halal dan Haram dengan Ringan

Banyak orang muslim memutuskan dengan tergesa-gesa apa itu halal dan apa itu haram. Beberapa dari kita sangat suka membuat Islam sebagai agama tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, agama yang hanya mengenai hitam dan putih yang tidak menuntut pengikutnya untuk berpikir.

Saya sering menerima pertanyaan tentang hal remeh-temeh seperti menanyakan apakah halal untuk pergi ke dokter gigi. Dalam Islam, semua hal adalah halal, kecuali Allah dan Rasul-nya menetapkannya sebagai haram, dan hal ini hanya sedikit adanya.

Namun, kita juga harus berhati-hati dalam membuat aturan karena ada hukum umum dalam Islam yang menyatakan bahwa yang haram dapat menjadi halal dalam kondisi darurat.

Jadi setiap situasi adalah berbeda, dan hanya setelah seseorang menerangkan dengan jelas situasinya kepada seorang ulamalah maka ulama dapat mengeluarkan fatwa yang berkaitan dengan situasi orang tersebut.

Kadang-kadang kami menerima pertanyaan mengenai masalah fiktif seperti bagaimana seorang muslim seharusnya memperlakukan budak, ketika Islam telah menghapus perbudakan lebih dari sepuluh abad yang lalu, atau bertanya akan masalah-masalah ghaib yang hanya diketahui Allah SWT; hal-hal yang tidak membantu kita di dunia ini dan juga tidak meningkat iman dan pengetahuan kita untuk memperbaiki akhirat kita.

“Mengapa saya membutuhkan Hadis itu?”

Ada kecenderungan sebagian muslim untuk menolak Sunnah Nabi Muhammad SAW. Ini karena adanya kebingungan mengenai klasifikasi hadis dan tidak jelas bagi mereka hadis mana yang sahih dan mana yang tidak sahih.

Seorang mualaf biasanya berpikir mengapa saya harus membaca sesuatu yang tidak sahih. Karena saya tidak dapat membedakan yang mana yang benar dan mana yang salah, maka sebaiknya saya menjauhi hadis sepenuhnya saja.

Kita harus mengerti pentingnya klasifikasi hadis, jika tidak, seseorang dapat mengklaim bahwa Nabi SAW mengatakan sesuatu yang tidak Beliau katakan. Tanpa klasifikasi tersebut, orang Islam kemungkinan besar akan mengikuti hal-hal yang meragukan.

Tanpa Sunnah Nabi, hukum Islam menjadi tidak utuh dan kita tidak akan mampu memahami sebagian besar ayat dalam Al-Quran. Contoh sederhana adalah tata cara sholat dan mengetahui kisaran waktu sholat lima waktu.

Bimbingan yang Sejati Berada dalam Diri Anda Sendiri

Di zaman kita ini, kita harus berhati-hati mengenai Islam itu seperti apa dan Islam itu tidak seperti apa. Ada terlalu banyak faktor yang dapat membuat kita tersesat. Kita perlu mencari pengetauan Islam yang sahih, atau bertanya mengenai agama kita kepada ulama yang moderat.

Islam adalah agama yang di tengah-tengah (moderasi) dan penyimpangan dari jalan tengah hanya akan memecah-belah dan membuat kita bingung; suatu jalan yang tidak disukai oleh Allah dan disukai oleh setan.

Jika Anda mendengar hukum Islam yang meragukan, selalu cari tahu dari beberapa (lebih dari satu) sumber Islami. Anda mungkin berfikir ini akan membuat Anda semakin bingung oleh karena perbedaan pendapat. Namun demikian, lihatlah hal tersebut sebagai rahmat bahwa Anda mampu berpikir untuk diri Anda sendiri dan memilih apa yang moderat dan menolak hal-hal yang ekstrim.

Semoga Allah SWT membimbing kita ke jalan-Nya yang lurus.
Amin.

—————————————-

CATATAN:

Maan Khalife mendirikan kuburan muslim pertama di negara bagian Arizona dan telah aktif dalam bidang dakwah selama 30 tahun terakhir. Saat ini Maan bekerja di OnIslam.net sebagai editor pada seksi AskAboutIslam.

Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari artikel berjudul: “A Fine Line Between Moderation and Extremism” yang dipublikasikan di website OnIslam dengan alamat URL:http://www.onislam.net/english/reading-islam/understanding-islam/474005-a-fine-line-between-moderation-and-extremism.html

Pedoman Persiapan Ramadhan untuk Orang Sibuk | Bagian 2 : Merencanakan dan Mencapai Target yang Ambisius dengan Mudah

Ditulis oleh Siraaj pada 10 Juni 2014 di www.muslimmatters.org

Memiliki target yang ambisius untuk bulan Ramadhan adalah baik, akan tetapi untuk mencapai target tersebut, orang harus dapat menghadapi tantangan bulan Ramadhan, yang meliputi penurunan tingkat energi (disebabkan oleh kurang makan dan tidur), entusiasme yang menurun di pertengahan bulan, dan menjaga komitmen-komitmen lain (kerja, sekolah, anak-anak, dll) dan pada saat yang sama meningkatkan komitmen waktu untuk beribadah; dan karena Anda tidak hidup dalam ruang vakum, Anda harus merekonsiliasi jadwal Anda dengan jadwal orang lain yang mungkin bergantung pada Anda untuk mendukung mereka mencapai target mereka dan sebaliknya.
Dalam tulisan ini, saya akan membahas beberapa target umum. Hal yang penting adalah Anda mempunyai cara untuk menentukan target apa yang sesuai untuk situasi anda dan bagaimana merealisasikannya.

Untuk target yang membutuhkan waktu dan dilakukan tiap hari, metodologinya adalah sebagai berikut:

1. Komitmen waktu.
2. Teknik untuk menuntaskan.
3. Batas minimum.

Untuk target yang tidak membutuhkan waktu, atau membutuhkan waktu sesaat yang agak lama, saya akan menyoroti beberapa strategi yang dapat dipertimbangkan.

Sholat Lima Waktu dan Sholat Sunnat

1. Komitmen waktu

Walaupun sholat lima waktu seringkali dianggap menghabiskan lebih dari lima menit setiap waktu sholat, dengan rata-rata 30 menit per hari, ini adalah cara yang buruk untuk membuat orang yang tidak terbiasa untuk sholat untuk memikirkan untuk melakukannya. Dalam kenyataan, sholat seringkali mencakup mengambil air wudu, mengeringkan, sholat wajib, sholat sunnat, dan juga berdoa. Ditambah lagi, dengan menurunkan standar waktu, kita hanya akan mereduksi sholat menjadi saat yang dibatasi + latihan aerobik, yang sepenuhnya berlawanan dengan ide untuk mendapatkan khusyuk.

2. Teknik untuk menuntaskan

Paling tidak kita akan melaksanakan dua macam sholat wajib pada waktu kerja (apabila tidak sedang bertelekommuter), dan tiga yang lain kita lakukan di rumah atau di masjid. Dengan demikian kita harus menyisihkan 15-20 menit pada waktu kerja untuk menyelesaikan sholat wajib, dan 30 menit di luar jam kerja. Jika Anda memiliki kemewahan waktu pada waktu kerja Anda, Anda juga dapat menuntaskan sholat sunnat di waktu kerja, kalau tidak Anda dapat mengqada-nya di masjid.

Pada waktu kerja, blok waktu Anda pada kalender digital Anda (misalnya Outlook), pesan ruang konferensi untuk sholat (di luar negri umumnya tidak ada mushollah di kantor sehingga sholat dilakukan di tempat lain seperti ruang rapat dll – red), dan sholatlah. Jika waktu Anda terbatas, misalnya jika Anda bekerja di pabrik, maka beritahulah manajer Anda mengenai situasi Anda dan sampaikan bahwa waktu yang dibutuhkan tidak lama. [1 kalimat diabaikan].

3. Batas Minimum

Apabila pada hari tertentu waktu Anda sangat terbatas, batas minimumnya selalu adalah untuk menuntaskan sholat lima waktu. Pastikan aktifitas ini selalu dilaksanankan. Jika Anda adalah seseorang yang belum pernah sholat lima waktu secara konsisten sebelumnya, ini adalah kebiasaan nomor 1 yang harus Anda kembangkan dan pertahankan. Pertahankalah kebiasaan ini dan jangan lepaskan setelahnya.

Menuntaskan bacaan Al-Qur’an

1. Komitmen waktu

Tergantung seberapa cepat Anda dapat menuntaskan bacaan 1 juz (20 halaman), komitmen waktu Anda bisa berkisar antar 10 menit dan 2 jam.

2. Teknik untuk menuntaskan

Ada beberapa metode yang baik untuk menuntaskan bacaan Al-Qur’an:

a. Metode Satu Juz per Hari: Baca 20 halaman per hari, dimulai dengan malam pertama Ramadhan.

– Metode 1 : pilih blok waktu di mana Anda akan membaca 20 halaman (misalnya sehabis sholat Subuh, pada saat istirihat siang, ketika berkommuter dalam kereta, dll).
– Metode 2 : Bagi-bagi waktu tadarrus Anda dalam bagian-bagian kecil sepanjang hari (misalnya baca 4 halaman setelah sholat lima waktu).

b. Metode I’tikaf: Jika Anda berencana untuk tinggal di masjid untuk I’tikaf, Anda dapat mengatur jumlah yang akan dibaca setiap hari yang bersifat susbtantif dan dapat dicapai (misalnya 5 – 10 halaman, bervariasi tiap hari) kemudian laksanakan I’tikaf untuk menuntaskan bacaan Al-Quran.

c. Metode tingkat energi: Baca Al-Quran lebih banyak pada malam pertama Ramadhan (misalnya 2-5 juz) kemudian rata-ratakan jumlah harian untuk membaca pada hari-hari berikutnya untuk 29 hari berikutnya.

3. Batas Minimum

Jika untuk alasan tertentu Anda merasa menuntaskan bacaan Al-Quran sepenuhnya berada di luar jangkauan Anda, itu tak apa-apa. Tetapkan jumlah yang terjangkau tiap hari (misalnya 3 halaman) dan jika pada hari tertentu Anda merasa punya energi lebih, bacalah lebih, dan jika energi Anda turun pada hari-hari tertentu, tetaplah pada batas minimum Anda.

Tarawih Malam

1. Komitmen waktu

Tarawih dapat dijalankan setelah sholat Isya selama 1 sampai 2 jam.

2. Teknik untuk menuntaskan

Anda mungkin lelah oleh apa yang terjadi pada hari sebelumnya sebelum mencapai titik ini. Berdiri selama 8 – 20 rakaat untuk 20 halaman bacaan Al-Quran sangat menguras secara fisik, Anda mungkin mengalami kekenyangan (koma makanan) setelah berbuka puasa, dan pikiran Anda mungkin melanglang buana kemana-mana. Apabila demikian, minumlah teh atau kopi.

3. Batas minimum

Yang lebih penting daripada sholat tarawih di masjid, adalah sholat Isya di masjid. Jika Anda harus menyelesaikan sholat di masjid di malam hari, pastikan Anda menyelesaikan sholat Isya. Jangan mengalokasi waktu sedemikian rupa sehingga Anda tiba untuk sholat tarawih tetapi melewatkan sholat Isya, karena sholat Isyalah sholat malam terpenting untuk dilaksanakan secara berjamaah.

Waktu untuk Keluarga

Ketika saya mengatakan waktu untuk keluarga, yang saya maksud adalah waktu yang Anda habiskan dengan keluarga (anak, pasangan, orangtua), bercengkrama, melakukan kegiatan bersama-sama – bermain, membahas kisah-kisah dalam Al-Qur’an, relaksasi dan berbicara tentang hari Anda, apapun yang mendekatkan Anda bersama-sama. Waktu ini sangat krusial dan bagi mereka yang sangat fokus ke ibadah, masukkanlah aktivitas ini ke dalam jadwal harian Anda sebagai dakwah bagi keluarga Anda.

1. Komitmen waktu

Tergantung situasi dan kondisi Anda, kegiatan ini dapat berlangsung selama 30 menit hingga 3 jam (atau lebih).

2. Teknik untuk menuntaskan

Menghabiskan waktu dengan keluarga mungkin merupakan hal terakhir yang ingin Anda lakukan setelah berpuasa sepanjang hari, tapi ingatlah bahwa kenangan yang paling indah, asosiasi yang lebih positif dengan keyakinan, dan kebaikan yang lebih baik terjadi pada saat ketika seluruh komunitas Muslim terlibat dalam kegiatan ibadah ekstra dan niat baik terhadap satu sama lain.

a. Lihat jadwal Anda dan sisihkan waktu untuk keluarga.
b. Tanyakan pada mereka apa yang ingin mereka lakukan dengan Anda, dan cobalah untuk mengakomodir hal tersebut.
c. Jangan rakus ketika berbuka puasa, atau Anda akan mendapatkan diri Anda dalam kondisi koma makanan.
d. Cobalah untuk menemukan aktifitas yang akan disukai setiap orang. Jangan memaksakan kuliah membosankan oleh guru favorit Anda yang hanya Anda yang suka kepada anak-anak, biarkan mereka memilih.
e. Pastikan untuk bergembira!

3. Batas minimum

Cobalah untuk menyediakan sedikitnya 30 menit per hari untuk keluarga Anda, dimana mereka dapat mengakses Anda dan menghabiskan waktu dengan Anda pada bulan ini.

I’tikaf – Berdiam diri di masjid untuk beribadah

1. Komitmen waktu

Pada jam kerja modern, kebanyakan orang tak akan mampu memenuhi i’tikaf sepuluh hari tanpa mengambil cuti pada hari kerja.

2. Teknik untuk menuntaskan

a. Jika Anda adalah tipe orang yang memperoleh motivasi di masjid yang penuh dengan orang yang beribadah dan orang yang Anda kenal, maka ke sanalah Anda pergi.
b. Jika Anda adalah tipe orang yang ingin dibiarkan sendiri tanpa gangguan, masjid kecil dengan lalu-lintas yang lebih sedikit mungkin lebih baik bagi Anda.
c. Di samping makanan, pakaian, hygiene, dan perlengkapan kemping, pastikan untuk membawa musaf Al-Qur’an, dan audio qari favorit Anda untuk Anda dengarkan dan lafalkan ketika Anda membaca.
d. Jika Anda bersikap obsessif-kompulsif terhadap kebugaran seperti saya, Anda juga dapat mengunduh aplikasi “You Are Your Own Gym” dan, setelah berbuka puasa, lakukan Tabata dengan interval 4 menit dengan berat badan Anda.

3. Batas Minimum

Cobalah untuk mendatangi masjid paling tidak pada Jumat malam dan meninggalkannya pada Minggu malam.

Target lain

1. Daftar doa

Sebelum Ramadhan dimulai, catatlah daftar doa (saya menggunakan aplikasi seperti Google Keep, yang dapat sync dengan ponsel pintar dan aplikasi web di desktop). Anda mungkin telah mengingat doa Nabi dalam Bahasa Arab, jadi ingatlah untuk membacanya sesering mungkin, tapi ingat jugalah doa yang berhubungan dengan:

a. Hari Kemudian: Alam kubur, hari pembalasan, dan rumah akhirat Anda.
b. Memperbaiki diri Anda: praktek Islami Anda, adab, kebiasaan, dan kebugaran, keuangan, dan pengembangan professional pribadi Anda.
c. Keluarga Anda.
d. Ummat.
e. Mereka yang menderita.
f. Ingatlah untuk memohon ampun dan agar ibadah Ramadhan Anda diterima.
g. Ingatlah untuk bersyukur kepada Allah atas semua yang telah Dia berikan kepada Anda, baik hal-hal yang biasa saja maupun hal-hal yang monumental.

2. Sedekah

Di samping Zakat Fitri, ada banyak kesempatan untuk donasi dan dapat tampak membingungkan untuk memutuskan kemana harus memberi uang. Saya menganjurkan hal berikut:

a. Aturlah sponsor bulanan otomatis bagi anak yatim-piatu melalui Islamic Relief atau lembaga lain. Jika Anda telah melakukan ini, tambahkan anak yatim-piatu lain.
b. Aturlah sponsor bulana otomatis untuk masjid lokal Anda. Jika Anda telah mensponsor mereka, tambahkan jumlah yang Anda donasikan, atau sponsorlah masjid lain yang membutuhkan pemasukan.
c. Motivasi teman dekat untuk melakukan poin a dan b.
d. Temukan tujuan mulia yang membutuhkan jumlah dana yang banyak. Putuskan bagaimana Anda akan mendonasi, kalikan 3, kemudian donasi jumlah tersebut pada organisasi yang bersangkutan pada 10 malam terakhir.

3. Bantu Orang Lain untuk Mencapai Aspirasi Ramadhan Mereka

Meskipun Anda seharusnya sibuk dengan kegiatan Ramadhan Anda, Anda juga sebaiknya memikirkan orang lain di rumah Anda yang mungkin saja memudahkan hidup Anda dengan mengambil alih tanggung jawab bersama. Anda sebaiknya mendekati secara proaktif orangtua, pasangan, atau anak Anda dan mencaritahu apa target Ramadhan mereka dan bagaimana Anda dapat menolong mereka mencapai target tersebut.

Misalnya, jika istri Anda ingin menghadiri tarawih, tapi masjid tidak membolehkan anak-anak di area wanita, adalah tidak praktis bagi Anda berdua untuk menghadiri tarawih bersama-sama, tapi mungkinkah bagi suami untuk menghadiri sholat fardu kemudian membawa anak-anak untuk memberi kesempatan bagi istri untuk sholat? Apakah Anda bisa membuat jadwal bergiliran untuk mendatangi mesjid, atau mungkin hari kerja vs akhir pekan? Anda tidak akan dapat sholat sepanjang 29 atau 30 hari tarawih penuh dalam pengaturan ini, tapi Anda berdua akan mendapatkan ibadah yang berkualitas, dan waktu berkualitas dengan anak-anak, suatu hal yang tidak dapat dianggap remeh.

4. Jangan berdebat

Setiap tahun, perdebatan tentang awal dan akhir Ramadhan selalu mencapai puncaknya mengenai pendapat mana yang benar, metode apa yang diikuti oleh sebagian golongan tahun ini dibanding tahun lalu,  dan politik yang mendasari mengapa keputusan-keputusan tersebut dibuat.
Hal ini seolah sebelum setan dirantai, kita ditinggalkannya dengan masalah ini agar setiap orang menjadi marah dan terpecah-belah. Setelah itu, hal ini diikuti oleh hiruk pikuk ibadah yang intens, yang berakhir dengan perkelahian mengenai metode untuk penentuan Idul Fitri.

Ingatlah nasihat Nabi SAW tentang perdebatan:

a. Apabila seseorang meninggalkan perdebatan, walaupun ia benar, sebuat tempat di surga akan dibangun untuknya.
b. Jika seseorang berdebat dengan Anda sementara Anda berpuasa, Anda diinstruksikan untuk memberitahu mereka bahwa Anda sedang berpuasa.

Itulah. Jangan berdebat tentang apapun. Jika seseorang meminta pendapat Anda, katakanlah bahwa Anda tidak ingin membicarakannya. Jika mereka bersikeras agar Anda membicarakannya, maka Anda bersikeras untuk tidak membicarakannya. Jika mereka mulai bercerita pada Anda tentang orang lain dan mendapat mereka yang keliru, senyumlah (karena itu Sunnah), dan tinggalkanlah orang itu dengan santun.

——————————-
CATATAN:
Siraj adalah seorang perekayasa perangkat lunak yang tertarik pada titik temu antara pengembangan kepribadian dan kehidupan Islami praktis, terutama yang berkaitan dengan manajemen waktu dan kebugaran fisik. Ia merupakan pecandu berita yang tak tersembuhkan dan hidup di daerah teluk dengan keluarganya.

Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari artikel berjudul: “Ramadan Prep Guide for Busy People | Part 1: Planning and Hitting Ambitious Goals Easily” yang dipublikasikan di website MuslimMatters dengan alamat URL: http://muslimmatters.org/2014/06/10/ramadan-prep-guide-for-the-busy-professional-part-2-planning-and-hitting-ambitious-goals-easily/

Pedoman Persiapan Ramadhan untuk Orang Sibuk| Bagian 1: Musim Latihan

Ditulis oleh Siraaj, 3 Juni 2014 di www.muslimmatters.org

Saya mendukung pesan-pesan yang menginspirasi kita untuk berusaha sebaik mungkin dalam beribadah kepada Allah SWT selama Ramadhan. Namun demikian, di negara-negara di mana waktu dan tidur setelah subuh adalah suatu kemewahan, sedikit persiapan sebelum memasuki bulan Ramadhan sangat dibutuhkan untuk memaksimalkan manfaat di bulan tersebut.Berikut adalah beberapa seri tulisan yang mencakup:

Bagian 1 – Musim Latihan : Bulan Ramadhan dapat bersifat fisik maupun spiritual, dan badan kita butuh penyesuaian untuk memasukinya. Bagaimana kita bisa melatih diri kita secara fisik sebelumnya? Praktek apa yang dapat kita ambil dari sunnah Nabi Muhammad SAW untuk membantu kita?

Bagian 2 – Menetapkan Target: Kita tentunya ingin mendorong diri kita melampui batas spiritual normal kita, namun pada saat yang sama kita juga ingin berhati-hati untuk tidak membuat target yang tidak realistis, yang menyebabkan harapan yang tidak realistis pula sehingga kita dapat kehilangan momentum dengan cepat, yang menyebabkan kita hanya berfungsi pada batas minimum. Bagaimana cara menetapkan target realistis yang masuk akal bukan hanya bagi diri kita pribadi, namun juga dalam konteks kepentingan orang lain di sekitar kita.

Bagian 3 – Membuat Jadwal: Hal ini sejalan dengan penetapan target. Bagaimana cara menjadwal kegiatan per minggu, berdasarkan target Ramadhan dan komitmen-komitmen lain yang sedang berjalan? Artikel ini akan menunjukkan cara yang mudah untuk melakukannya, dan mengapa hal ini penting dilakukan.

Bagian 4- Lain-lain: Bagian ini meliputi cara mengosongkan jadwal, olahraga, dan hal-hal lain yang penting untuk diingat selama bulan Ramadhan.

Artikel mengenai manajemen pribadi dan manajemen waktu cenderung berisi detail yang penuh dengan kalimat berkoma. Saya akan mencoba untuk membahas dengan singkat dan terarah, tetapi berhati-hatilah untuk tidak menggampangkan kesederhanaan.

Latihan untuk Triatlon Spiritual Utama

[2 paragraf diabaikan].

Ramadhan adalah triathlon spiritual utama yang terdiri atas siyaam (puasa), sholat, dan Quran. Kita berpuasa sepanjang hari, sholat lima waktu, dan berusah menyelesaikan membaca Quran sepanjang bulan ini, dan sholat di malam hari/sebelum subuh, dan sholat dhuha. Agar dapat memperoleh manfaat semaksimal mungkin, kita harus menangani hal-hal fisik terkait apabila kita ingin mempertahankan konsistensi yang disyaratkan, untuk memetik pahala yang menanti kita.

Puasa

Nabi SAW diketahui melaksanakan puasa Senin dan Kamis [1], menganjurkan puasa pada hari ke 13, 14, dan 15 setiap bulan [2], dan memperbanyak puasanya pada bulan Sya’ban melebihi bulan-bulan lain selain Ramadhan. [1 kalimat diabaikan]. Dengan demikian, mari kita bahas bagaimana kita dapat meningkatkan ibadah puasa kita dalam bulan Ramadhan:

Pekan 1 : Puasa Sehari

Pada pekan ini, Anda hanya ingin melewati rintangan yang berada di antara Anda dengan puasa pertama Anda setelah waktu yang lama. Pilihlah hari yang paling mudah buat Anda:

1. Pada akhir pekan: Sehari dalam akhir pekan mungkin lebih mudah bagi Anda karena hanya ada sedikit aktifitas, selain itu, Anda membutuhkan kopi pada jam kantor. Akhir pekan memberi Anda kesempatan untuk tidur lebih banyak sehingga memudahkan puasa yang lebih nyaman. Namun demikian, karena ini adalah puasa sehari, Anda tidak bisa berpuasa pada hari Sabtu, hanya hari Minggu, kecuali jika Anda berencana untuk berpuasa pada hari Jumat atau hari Minggu berpasangan dengan hari Sabtu [4].

2. Pada hari kerja: Atau, Anda mungkin berada pada spektrum yang berlawanan di mana bekerja membuat Anda sibuk dan membantu Anda untuk melalui puasa dengan cepat. Bonusnya adalah Anda bisa berpuasa hari Senin atau Kamis.

Pekan 2: Berpuasa dua hari

1. Sunnah: Berpuasalah pada hari Senin dan Kamis, karena hari-hari tersebut adalah hari-hari berpuasa Nabi SAW sepanjang tahun. Jika Anda betul-betul berambisi, Anda dapat memadukan puasa Senin-Kamis dengan puasa tengah bula pada tanggla 13, 14, dan 15, karena pada bulan Sya’ban ini, tanggal 14 jatuh pada hari Kamis.

2. Akhir pekan: walaupun secara umum tidak dianjurkan, Anda juga dapat berpuasa pada akhir pekan apabila ini lebih mudah bagi Anda. Tetapi sebaiknya Anda juga menyisipkan satu hari kerja, karena di sinilah dimulainya ujian yang nyata.

Jika Anda belum berpuasa pada pekan 1 dan 2, jangan memulai puasa pada pekan 3 dan 4. Walaupun Nabi SAW diketahui berpuasa pada bulan Sya’ban, Beliau juga melarang untuk memulai puasa baru pada paruh kedua bulan Sya’ban. Bagi yang telah berpuasa sebelum masa waktu tersebut, boleh berpuasa sepanjang bulan Sya’ban, termasuk di paruh kedua [5].

Pekan 3 dan 4: Puasa Empat Hari, Kemudian Tiga Hari

Rentang waktu ini akan mendekatkan Anda pada kondisi siap, insya Allah. Ini adalah puasa Daud, yaitu berpuasa satu hari dan tidak berpuasa pada hari berikutnya secara berturut-turut, yang akan membawa kita pada masa tepat sebelum Ramadhan. Karena pekan ke-4 pendek, saya mengubah jumlah hari puasa, yaitu pekan 3 = 4 hari, dan pekan 4= 3 hari.

Hal Penting Lain

1. Rukun lain: Pastikan untuk makan sahur, berbuka puasa segera jika waktu berbuka puasa tiba, makan dalam jumlah yang cukup dan tidak berlebihan, menjauhi argumentasi, walaupun Anda sedang tidak berpuasa.

2. Pada Hari Non-Puasa: Latih diri Anda untuk merasakan dan mengabaikan rasa lapar. Makanlah tidak lebih dari 4 kali sehari, pastikan porsinya ukuran medium, dan hindari memakan cemilan berkalori di antara waktu-waktu makan utama. Bagi mereka yang ingin mengurangi lemak, ini adalah salah satu cara untuk melakukannya.

Sholat

Sholat lima waktu

Shalat lima waktu adalah rukun Islam yang kedua dan wajib sifatnya. Kebanyakan orang sebenarnya tidak malas melakukannya, hanya saja mereka tidak melihat penting prioritas kebiasaan ini [6]. Jika Anda merupakan salah satu orang yang melewatkan sholat lima waktu, tapi berlebihan dalam tarawih, ketahuilah bahwa kuantitas kegairahan religius Anda terhadap tarawih di bulan Ramadhan vs sholat lima waktu harus diputarbalik. Jika Anda melewatkan semua sholat tarawih untuk selamanya dan hanya melakukan batas minimum sholat lima waktu di sepanjang sisa hidup Anda, itu akan lebih baik bagi Anda, jika Anda harus memilih, karena tak ada yang membawa Anda lebih dekat kepada Allah SWT kecuali menaati-Nya dalam hal-hal yang diwajibkan-Nya. Jika Anda tidak melaksanakan sholat lima waktu, inilah cara memulainya, tidak ada cara lain.

Anda dapat memulai dengan sholat yang paling mudah dilakukan pada awal waktunya pada pekan pertama. Dari situ, mulailah melakukan dua sholat setiap hari di pekan kedua, kemudia tiga di pekan ketiga, dan akhirnya empat di pekan ke empat. Ketika Ramadhan dimulai, Anda akan dapat melakukan sholat lima waktu setiap hari, dan mungkin inilah kebiasaan tunggal yang paling penting dalam hidup Anda yang harus Anda pertahankan setelah Ramadhan, apapun yang terjadi.

12 Sholat Sunnat Rawatib

Ada lebih dari 12 rakaat sholat sunnat rawatib yang dapat diselesaikan dalam satu hari, tapi sebagai permulaan dapat dilakukan sholat sunnat rawatib dengan total 12 rakaat secara konsisten:
1. 2 rakaat sebelum sholat Subuh.
2. 2 atau 4 rakaat sebelum sholat Lohor, dan 2 rakaat sesudahnya.
3. 4 rakaat sebelum sholat Ashar.
4. 2 rakaat setelah sholat Maghrib.
5. 2 rakaat setelah sholat Isya.

Tahajjud/Qiyamul Layl

Karena ada beberapa masjid yang kemungkinan besar melaksanakan sholat qiyamul layl di malam hari, terserah Anda apakah akan mulai dengan kegiatan ini. Ini adalah saat yang baik untuk berkumpul dengan keluarga Anda, jika Anda hidup dengan mereka, dan sholat bersama. Saya menyarankan untuk menyelesaikan ¼ atau ½ juz (masing-masing 5-10 halaman) dalam 8 atau 20 rakaat (sesuai pilihan Anda).

Jika tingkat hapalan Anda kurang dari setengah juz, jangan kuatir, baca saja surah yang sama beberapa kali di setiap sholat, dan bacakan di beberapa sholat. Intinya adalah berdiri dan beribadah kepada Allah SWT dengan apapun yang Anda miliki, dan insya Allah akan diterima dan diberi pahala.

Akhirnya, Anda dapat melakukannya di malam hari Anda puasa jika motivasi spiritual Anda sudah tinggi, dan Anda juga dapat melakukannya di hari-hari non-puasa karena Anda ingin relaksasi pada hari puasa Anda- itu adalah pilihan Anda.

Tadarrus Al-Quran

Nabi SAW merevisi Al-Quran setiap Ramadhan, jadi kita semua harus mempunyai target untuk menyelesaikan bacaan Al-Quran sebanyak mungkin. Walaupun lumrahnya kita dianjurkan untuk membaca dengan pemahaman, selama Ramadhan beberapa ulama menganjurkan kita fokus untuk memperoleh pahala dalam melafalkan (tadarrus) Al-Quran saja. Minimal, itu akan berarti melafalkan 20 halaman rata-rata per hari untuk menuntaskan tadarrus. Untuk membiasakan setelah lama tidak mempraktekkan, mulailah dengan jumlah halaman yang sedikit, kemudian tingkatkan pada akhir pekan. Jadi jika rekomendasinya 2-4 halaman untuk pekan tersebut, mulailah dengan 2 halaman per hari, kemudian lanjutkan dengan 3, dan pada akhir pekan dengan 4 halaman:

1. Pekan 1 : 2 – 4 halaman per hari.
2. Pekan 2 : 5 – 8 halaman per hari.
3. Pekan 3 : 9 – 12 halaman per hari.
4. Pekan 4 : 13 – 16 halaman per hari.

Jika Ramadhan tiba, ada berbagai cara berbeda untuk menuntaskan tadarrus Al-Quran, tergantung keterbatasan waktu Anda. Pada Bagian 2 kami akan merevisi beberapa teknik yang dapat digunakan untuk memudahkan penuntasan tadarrus Al-Quran di bulan Ramadhan, insya Allah.

Sampel Jadwal Pekan Kedua

Kita akan membicarakan ini secara detil di Bagian 3, akan tetapi berikut ini adalah contoh jadwal pada pekan kedua (klik gambar untuk memperbesar):

Image

Saya menganggap hal-hal tersebut “penting”, sehingga mereka diberikan jadwal dan waktu tersendiri. Sholat diberi waktu setengah jam untuk wudu, sholat fardu, dan sholat sunnah. Tadarrus ditempatkan setelah sholat Subuh karena pada umumnya menyelesaikan hal yang paling penting terlebih dulu adalah kebiasaan yang baik, sementara membaca Al-Quran dapat mengelevasi secara spiritual, dan mengurangi hal-hal yang harus dilakukan akan mengurangi rasa kuatir. Selain itu, tadarrus adalah cara yang baik untuk memulai hari 😉 Akan tetapi apabila tadarrus setelah subuh terlalu berat bagi Anda, pastikan Anda memilih waktu di mana Anda memiliki kekuatan mental untuk mengusahakan kegiatan tadarrus ini.

Alasan lain untuk menempatkan jadwal di kalender Anda adalah karena Anda dapat mengatur alert/peringatan yang dapat sync dengan ponsel pintar Anda (apabila Anda punya) dan dapat merekam hari Anda dan kebiasaan religius Anda dari kalender Anda, insya Allah.

Kesimpulan

Itulah materi untuk Bagian 1, nantikan Bagian 2 pekan depan, yang insya Allah akan membahas penetapan target bagi diri Anda dan keluarga. [1 kalimat diabaikan].

Referensi

1. Diriwayatkan oleh Aisya ra: Nabi SAW senang berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Riwayat Al-Tirmidhi, 745; Al-Nasaa’I, 2362; Ibn Maajah, 1739; diklasifikan sebagai sahih oleh Al-Albaani di Saheeh al-Targheeb, 1044.
2. Diriwayatkan ole Jareer ibn Abdullah ra bahwa Nabi SAW berkata: “Puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa seumur hidup, dan ayaam al-beed adalah hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas”. Riwayat Al-Nasaa’I, 2420; diklasifikasikan sebagai sahih oleh Al-Albani di Sahih Al-Targheeb, 1040.
3. Muslim (1156) meriwayatkan bahwa Abu Salamah berkata: “Saya bertanya pada Aisyah ra mengenai puasa Rasulullah SAW, dan Aisyah berkata: ‘Beliau biasa berpuasa hingga kami mengira Beliau akan selalu berpuasa, kemudian Beliau tidak berpuasa hingga kami mengira Beliau akan selalu tidak berpuasa, tapi saya tidak pernah melihat Beliau berpuasa pada bulan manapun sebanyak puasa Beliau di bulan Sya’ban. Beliau biasanya berpuasa sepanjang Sya’ban, dan Beliau biasa berpuasa sepanjang Sya’ban kecuali beberapa hari.’”.
4. http://islamqa.info/en/81621
5. http://islamqa.info/en/13726
6. “Hal pertama yang akan ditanyakan pada seorang hamba di hari pembalasan adalah sholat. zApabila sholatnya bagus, maka sisa perbuatannya akan bagus. Apabila sholatnya buruk, maka sisa perbuatannya akan buruk.” [Diriwayatkan oleh al –Tabarani. Menurut Al-Albani, hadis ini sahih. Al-Albani, Sahih Al-Jami, vol. 1, p. 503.

————————————————————————
CATATAN:
Siraj adalah seorang perekayasa perangkat lunak yang tertarik pada titik temu antara pengembangan kepribadian dan kehidupan Islami praktis, terutama yang berkaitan dengan manajemen waktu dan kebugaran fisik. Ia merupakan pecandu berita yang tak tersembuhkan dan hidup di daerah teluk dengan keluarganya.

Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari artikel berjudul: “Ramadan Prep Guide for Busy People | Part 1: Training Season” yang dipublikasikan di website MuslimMatters dengan alamat URL: http://muslimmatters.org/2014/06/03/ramadan-prep-guide-for-the-busy-professional-part-1-training-season/